Sinergitas Penanganan Stunting di Masa New Normal

Spread the love

Masa pandemik bukanlah hambatan, New Normal merupakan awal sebuah transformasi dari proses pembelajaran.

Permasalahan stunting menjadi salah satu fokus program kerja pemerintah. Dalam kesempatan ini Direktorat GTK PAUD, Ditjen GTK, Kemdikbud RI mengadakan On-Air Talkshow bekerjasama dengan RRi yang menyiarkan ke seluruh pelosok negeri, sembari di-blended dengan kegiatan webinar. Pada kesempatan ini Dit. GTK PAUD menghadirkan Rektor Universitas Yarsi, Prof. dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D, Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Tim Percepatan Pencegahaan Anak Kerdil (TP2AK) Setwapres RI, Abdul Muis, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, drg. Marlina BR Ginting Manik M.Kes, Kasubdit Perlindungan Sosial Kementerian Desa PDTT, Sri Wahyuni serta Plt. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD, Dr. Abdoellah, M.Pd mereka didaulat untuk menjadi narasumber ahli dan pemangku kepentingan.

Hot topik yang dibahas pada acara ini adalah “Sinergitas Penanganan Stunting di Masa New Normal”. Abdoellah menjelaskan harus ada peningkatan kualitas dan kompetensi guru pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai bagian dari upaya memerangi stunting. Pendidikan pada anak usia dini (AUD) itu diibaratkan sebagai pondasi pada sebuah bangunan rumah, semakin kuat pondasinya maka akan makin kuat pula bangunan tersebut, ujarnya.

Apalagi, masa perkembangan anak usia dini merupakan masa-masa keemasan pertumbuhan otak anak. Di sisi lain,  stunting itu sendiri bukan hanya tentang fisik tetapi tumbuh kembang otak. Dengan demikian kualitas pendidik PAUD sebagai ujung tombak harus dioptimalkan.

Plt. Direktur yang hoby berolah raga ini menjelaskan, “Akan terus berkoordinasi untuk mempercepat penanganan stunting kepada guru-guru PAUD walaupun masih terkendala Covid 19”. Abdoellah menambahkan pihaknya telah mempersiapkan kurikulum dan modul pelatihan yang sensitif gizi, serta mempersiapkan pelatih di setiap kabupaten prioritas penanganan stunting. Hal in yang diharapkan dapat menjadi acuan semua pihak dalam melakukan pelatihan peningkatan kompetensi pendidik PAUD.

Dalam kesempatan yang sama Fasli Jalal menjelaskan tantangan terbesar dalam pencegahan stunting ada di tingkat kehamilan yang mencapai 4,5 juta setiap tahun. Dari 4,5 juta ibu hamil harus memulai mencegah stunting sejak kehamilan dengan memeriksakan secara teratur kandungannya dan memberikan vitamin yang disarankan dokter.

“Variasi masyarakat di Indonesia sangat banyak. Semua jalur harus bisa masuk untuk penyuluhan pentingnya pencegahan stunting. Penyuluhan pada orang tua tentang seribu hari kelahiran harus benar-benar tersampaikan,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama Kemenkes berharap adanya regulasi tentang bagaimana strategi komunikasi itu benar-benar ala daerah. “Dianalisa dan diidentifikasi bersama agar bisa terlihat determinan apa saja di luar kesehatan yang menyebabkan stunting itu bisa terjadi dan regulasi tersebut juga bisa diterapkan dan dikomunikasikan agar pencegahan stunting bisa diterapkan”, ujar Marlina.

Abdul Muis dari TP2AK Setwapres RI dan Sri Wahyuni dari Kemendes juga menambahkan agar kita semua sadar dan bekerja sama dalam melakukan pendampingan untuk mencegah stunting. Siapapun dan dari golongan apapun, mari kita bekerjasama agar stunting bisa turun menjadi 14% pada periode tahun 2020-2024, (Serpong 24/08/2020, mfb).