Guru Penggerak: Oase di Tengah Gersangnya Dunia Pendidikan Indonesia

Spread the love

GURU PENGGERAK:

OASE DI TENGAH GERSANGNYA DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Oleh: Rr. Septriwi Antarsari
Guru Sekolah Indonesia Yangon

Education is the most powerful weapon to change the world. –Nelson Mandela

Pertanyaannya adalah pendidikan yang seperti apa?

Dunia terus berputar dan manusia senantiasa bergerak mengikuti putaran roda bumi. Tantangan dari satu generasi ke generasi berikutnya semakin besar. Pendidikan yang luar biasa akan menjadi salah satu cara menjawab berbagai tantangan yang dinamis. Ada beberapa unsur yang terlibat dalam pendidikan. Ujung tombak dalam lembaga pendidikan adalah guru. Jika gurunya baik, transformatif dan progresif, maka baik pula proses dan hasil pendidikan.

Sistem pendidikan di Indonesia menganut sistem pendidikan nasional dan telah mengalami beberapa perubahan kurikulum disesuaikan dengan perkembangan zaman serta ragam suku, ras, bahasa, budaya dan agama yang ada di Indonesia. Namun demikian, perubahan kurikulum yang sesungguhnya memiliki filosofi luar biasa tersebut ternyata belum dapat mengubah pola pikir serta perilaku guru dan murid sebagai hasil pendidikan. Filosofi nilai-nilai luhur pendidikan yang mendasari tidak diterjemahkan dengan baik oleh para praktisi pendidikan. Para praktisi pendidikan masih berpikir konvensional, terpaku pada target-target muatan kurikulum sehingga tidak menjiwai esensi kurikulum yang didesain. Sebagai akibatnya, praktik proses belajar mengajar pun masih sama, monoton dan hampa tanpa makna.

Untuk menjawab problematika di atas, perubahan yang menyeluruh, dari arah, tujuan, orientasi, dan aspek-aspek operasional pendidikan adalah suatu keharusan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pemangku kebijakan pendidikan pun melakukan terobosan dengan meluncurkan Merdeka Belajar pada acara Rapat Koordinasi Bersama Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jakarta 11 Desember 2019 (Kompas, 12/12/2019).

Seperti yang dipaparkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim, esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkan kepada murid. Menurutnya, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Memasuki tahun 2021, program Merdeka Belajar sudah memasuki beberapa episode. Dalam Merdeka Belajar, seluruh pemangku kepentingan pendidikan (termasuk murid) menjadi agen perubahan serta memberikan pengaruh dan dukungan sepenuhnya (Hendarman, 2021).

Menurut Hendarman, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud, sesungguhnya Indonesia sudah memiliki dasar pemikiran pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Pemikiran seorang Ki Hajar Dewantara dituangkan dalam Perpres No 87 tahun 2017 tentang Program Penguatan Pendidikan Karakter, yang terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk.

  Dalam acara Sosialisasi Kebijakan Pendidikan Nasional pada Sekolah Indonesia di Luar Negeri pada 14 April 2021, Hendarman menuturkan bahwa konsep Merdeka Belajar adalah pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari sembilan episode yang dicanangkan, guru penggerak  ada di dalam episode ke lima. Guru penggerak adalah guru yang mau melakukan perubahan di sekitarnya. Guru penggerak sebagai teladan, membantu murid mencapai merdeka belajar yang berarti mandiri, berkebhinekaan global, bergotong royong dan bernalar kritis. Guru penggerak juga mampu membangun jiwa murid menjadi insan yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. Tak lupa, guru penggerak juga mengajar dengan kreatif serta menjadi SDM yang unggul, seperti semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Pada acara yang sama (14/4/2021) Kasiman, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Program Pendidikan Guru Penggerak menjelaskan bahwa Kemendikbud terus mencari dan menyeleksi guru-guru terbaik di tanah air. Guru-guru yang dicari adalah mereka yang memiliki potensi untuk menggerakkan ekosistem di sekolahnya serta mampu berkolaborasi dengan sekolah lain. Guru penggerak bukanlah guru berprestasi yang hanya memiliki kompetensi dan capaian individu, namun diharapkan mereka dapat berkontribusi dan berkolaborasi secara nyata dalam ekosistem sekolah.

Guru penggerak adalah mereka yang selalu  bergerak tanpa diminta dan selalu berpihak kepada murid. Mereka tidak meninggalkan murid di jam-jam belajar, sehinga pelatihan dan pembekalan guru penggerak dilakukan di jam-jam di luar kegiatan belajar mengajar (KBM). Lebih lanjut Kasiman memaparkan bahwa guru penggerak diharapkan dapat menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Definisi pelajar bukan saja murid yang belajar yang di sekolah, namun juga guru, orang tua, dan masyarakat yang cinta ilmu, cinta belajar. Sumber daya manusia yang unggul ini merupakan pembelajar sepanjang hayat, yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Dengan penjelasan komprehensif di atas, saya memiliki harapan besar akan adanya perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang selama ini cukup memprihatinkan. Semangat Ki Hajar Dewantara seakan hidup kembali dan akan terwujud implementasinya. Guru-guru transformatif akan memenuhi ruang-ruang kelas, menjadi role model yang inspiratif serta supportive bagi para murid. Guru-guru yang akan mengajak, memengaruhi dan menggerakkan rekan sejawat, murid, orang tua dan masyarakat, menggeser paradigma pendidikan, serta terus bergerak tanpa mengenal lelah untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Jika seluruh elemen dalam ekosistem pendidikan bergerak bersama, dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya optimis bahwa generasi emas Indonesia yang berkarakter, SDM yang unggul, akan mampu berkiprah dan berkontribusi di dunia global, dalam era Industri 5.0. Mari kita wujudkan!