Atasi Stunting agar Tak Terpelanting

Spread the love
Ari Susanti, S.S, S.Pd, M.Pd - TK AISYIYAH 24 Surabaya
Ari Susanti, S.S, S.Pd, M.Pd – TK AISYIYAH 24 Surabaya

Mengutip situs Kemenkes: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1.000 Hari Pertama Kehidupan).

Data yang dirilis Media Indonesia, Kamis 19 Desember 2019 menyebutkan bahwa Unicef (United Nations Children’s Fund) 2017 menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat kedua se-ASEAN dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni 36,4%. Peringkat pertamanya Laos, dengan prevalensi 43,8%. Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memaparkan, angka stunting pada balita Indonesia mencapai 30,8%, lumayan turun dari angka 37,2% pada Riskesdas 2013. Padahal, WHO menetapkan angka prevalensi stunting maksimal 20% dari populasi balita. Dengan demikian, Indonesia masih jauh di bawah standar WHO. Menurut data Kemenkes 2017 yang dipublikasikan 2018, lima provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi, yaitu NTT (40,3%), NTB (39%), Sulteng (36,1%), Kalsel (34,2%), dan Papua (32,8%). Sementara itu, yang terendah ialah DIY (19,8%). Di akhir masa jabatannya, Oktober 2019, Menkes Nila Moeloek menyatakan bahwa prevalensi stunting balita Indonesia turun menjadi 27,67%. Memang angkanya turun, tapi masih belum memenuhi standar WHO.

Sebenarnya, apa penyebab stunting? Menurut Kemendes (2017) stunting disebabkan oleh 5 faktor utama yaitu: gizi buruk yang dialami ibu hamil maupun balita,  kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah melahirkan, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan dan setelah melahirkan, terbatasnya pembelajaran anak usia dini yang berkualitas, masih kurangnya akses kepada makanan bergizi, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi.

Akibat buruk yang dapat ditimbulkan stunting adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Untuk jangka panjangnya, bisa menurunkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunkan kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan memicu munculnya sederet penyakit beresiko tinggi seperti diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua.

Mengatasi stunting bukan perkara mudah. Berbagai pihak harus ikut bersinergi dan bahu-membahu karena stunting berhubungan dengan kualitas hidup anak, calon pemegang estafet kepemimpinan negara ini. Secara garis besar, stunting akan menurunkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan daya saing bangsa.

Pemerintah pada tahun 2018 telah meluncurkan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting. Sasaran prioritas Stranas ini adalah ibu hamil dan anak usia 0-2 tahun atau rumah tangga 1000 HPK, sedangkan intervensi prioritasnya adalah intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Intervensi gizi spesifik sasaran prioritasnya adalah ibu hamil dan ibu menyusui. Umumnya dilakukan oleh sektor  kesehatan yang meliputi pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kelompok miskin dan suplemen tablet tambah darah, kalsium, pemeriksaan kesehatan, serta perlindungan dari malaria atau pencegahan HIV sesuai kondisi.

Sasaran penting dari intervensi gizi spesifik adalah remaja putri dan wanita usia subur sebagai calon ibu berupa pemberian suplementasi tablet tambah darah serta anak usia 24 sampai 59 bulan berupa  tata laksana gizi buruk akut, pemberian makanan tambahan pemulihan bagi anak gizi kurang akut dan pemantauan pertumbuhan. Diberikan juga suplementasi kapsul vitamin A, suplementasi taburia, imunisasi, dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Intervensi gizi sensitif dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Peningkatan penyediaan air minum dan sanitasi, peningkatan akses dan kualitas gizi dan Kesehatan, peningkatan kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak, serta peningkatan akses pangan bergizi adalah poin-poin utama intervensi gizi sensitif.

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu intervensi prioritas yang masuk dalam kelompok intervensi sensitif yaitu peningkatan peningkatan kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak.

Apa yang dapat dilakukan pendidik PAUD dalam mencegah dan menangani stunting?

  1. Mengupayakan kegiatan makan bersama di sekolah dengan makanan sehat, bergizi dan bervariasi
  2. Memastikan agar anak dibawa ke Posyandu setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya
  3. Memastikan bahwa tersedia air bersih di sekolah
  4. Memastikan bahwa lingkungan sekolah bersih, nyaman, aman dan sehat, termasuk bebas dari serangga dan hal-hal yang membahayakan anak
  5. Memastikan bahwa setiap anak mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat
  6. Memastikan bahwa lingkungan sekolah bebas asap rokok
  7. Memastikan bahwa tersedia toilet yang sehat bagi anak
  8. Memastikan bahwa setiap anak menggunakan barang personalnya sendiri (misalnya : handuk, pakaian, gunting kuku, sisir rambut, sikat gigi, peralatan makan/minum, dan lain-lain)
  9. Memastikan bahwa anak yang mengalami gangguan kesehatan ditangani dengan tepat
  10. Mendorong orangtua untuk membawakan bekal makanan/minuman yang sehat dan bergizi
  11. Mendorong orangtua untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap dan vitamin A setahun 2 kali (bulan Agustus dan Februari)
  12. Melakukan kerjasama lintas sektoral, misalnya dengan Puskesmas, pemerintah desa
  13. Melakukan parenting tentang pentingnya pengasuhan positif, gizi, kesehatan, keamanan, keselamatan dan perlindungan

Kendala yang dihadapi di lapangan adalah anak tidak terbiasa makan sayur, sehingga ketika kegiatan makan bersama dihidangkan sayuran, anak-anak tidak mau memakannya. Mereka sebagian besar terbiasa dengan fast food dan mie instan, terlihat dari bekal makanan yang mereka bawa setiap hari. Disamping itu, menurunnya angka kunjungan ke Posyandu dengan alasan orangtua sibuk bekerja, sehingga kondisi anak tidak terpantau secara rutin.

Kolaborasi yang mesra antar sektor baik pemerintah maupun swasta wajib hukumnya untuk mengatasi stunting ini, agar bangsa kita tak terpelanting dari kancah persaingan dunia internasional. Pembangunan fisik dan non fisik harus segera dilakukan agar masalah stunting di Indonesia segera bisa diatasi. Ayo kita bersinergi membangun bangsa dengan kekuatan yang kita miliki demi masa depan negara.

Ditulis oleh     : Ari Susanti, S.S, S.Pd, M.Pd – TK AISYIYAH 24 Surabaya